Kabar baik datang dari Malaysia! Pada Senin, 28 Juli 2025, Thailand dan Kamboja akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata.
Kesepakatan penting ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, setelah pertemuan mediasi yang tegang.
Gencatan senjata ini diharapkan bisa mengakhiri konflik berdarah yang sudah berlangsung lima hari di perbatasan kedua negara, yang memperebutkan kuil-kuil kuno dan telah menewaskan setidaknya 36 orang serta membuat lebih dari 200.000 warga mengungsi.
Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja, terutama di sekitar Kuil Preah Vihear dan Ta Moan Thom, bukanlah hal baru.
Sengketa ini sudah berlangsung lebih dari seabad, berakar dari garis perbatasan yang dibuat pada masa penjajahan Prancis di tahun 1907 yang dianggap kabur.
Meskipun Mahkamah Internasional pada tahun 1962 memutuskan Kuil Preah Vihear milik Kamboja, wilayah di sekitarnya masih menjadi sumber perselisihan.
Bagi kedua negara, kuil-kuil kuno ini bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga simbol identitas dan nasionalisme.
Pertempuran yang sering terjadi, seperti yang baru saja terjadi, menunjukkan betapa dalamnya masalah ini dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan ribuan warga sipil yang tinggal di area perbatasan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan warga yang tinggal di daerah konflik seperti ini?
Gencatan senjata adalah langkah awal yang sangat penting.
Ini memberi waktu bagi semua pihak untuk bernapas, mencari solusi damai, dan yang paling penting, memungkinkan bantuan kemanusiaan sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Warga yang mengungsi bisa mulai memikirkan kapan mereka bisa kembali ke rumah, dan mereka yang masih di daerah bahaya bisa merasa lebih aman.
Penting bagi kita semua, termasuk warga yang terdampak, untuk mendukung proses perdamaian ini dan tidak mudah terpancing provokasi.
Gencatan senjata ini akan berlaku mulai tengah malam tanggal 28 Juli 2025.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyambut baik kesepakatan ini sebagai kesempatan untuk "kembali normal", sementara belum ada pernyataan resmi dari Penjabat PM Thailand.
Gencatan senjata ini bukan hanya hasil mediasi Malaysia, tetapi juga didukung oleh Amerika Serikat dan China.
Pertemuan antara komandan militer kedua negara juga akan menyusul pada hari Selasa.
Semoga gencatan senjata ini benar-benar bisa membawa perdamaian yang langgeng bagi Thailand dan Kamboja, dan kehidupan warga di perbatasan bisa kembali tenteram seperti sedia kala.
