Oleh: Oki Dwi Yulianto
Internet murah dengan kecepatan 100 Mbps sedang jadi perbincangan hangat.
Pemerintah melalui Komdigi membuka lelang frekuensi 1,4 GHz, yang disebut-sebut akan mendorong kompetisi sehat antarprovider.
Nama-nama besar seperti MyRepublic hingga Surge ikut serta.
Namun, pertanyaan penting muncul: apakah langkah ini benar-benar akan membuat internet murah jadi berkelanjutan, atau sekadar gimmick sementara untuk menarik perhatian publik?
Fakta yang Mendukung Opini Ini
- Harga internet di Indonesia masih timpang. Saat Surge menawarkan 100 Mbps seharga Rp100.000/bulan tanpa FUP, provider lain seperti IndiHome, Biznet, hingga MyRepublic masih menetapkan harga di kisaran Rp375.000–Rp575.000/bulan.
- Frekuensi adalah sumber daya terbatas. Lelang frekuensi memungkinkan lebih banyak pemain masuk, tapi pengelolaan yang buruk bisa membuat harga tetap tinggi akibat monopoli atau konsolidasi di masa depan.
- Persaingan bisa mendorong inovasi. Kehadiran banyak provider bisa memaksa penyedia lama untuk menurunkan harga, meningkatkan layanan, atau bahkan menghapus FUP.
- Janji internet murah sudah berulang kali terdengar. Namun, realisasi jangka panjangnya sering terbentur biaya infrastruktur dan regulasi yang tidak konsisten.
- Keterlibatan banyak provider bisa memecah pasar. Jika terlalu banyak pemain kecil yang masuk, mereka bisa kesulitan bertahan karena margin tipis, akhirnya justru gulung tikar.
- Murah belum tentu berkualitas. Internet dengan harga sangat rendah bisa saja mengorbankan stabilitas jaringan, layanan pelanggan, dan keamanan data.
- Frekuensi saja tidak cukup. Tanpa investasi besar pada backbone dan infrastruktur serat optik, harga internet bisa kembali naik ketika biaya operasional membengkak.
- Kompetisi tidak selalu adil. Pemain besar seperti Telkom atau Biznet memiliki modal lebih besar dibandingkan provider baru, sehingga potensi kartel atau dominasi pasar tetap mengintai.
Lelang frekuensi dan masuknya banyak provider memang memberi harapan akan internet murah di Indonesia. Tapi, tanpa regulasi yang ketat, pengawasan harga, serta keberpihakan pada konsumen, janji “internet murah berkelanjutan” bisa saja hanya jadi euforia sesaat.
Pada akhirnya, masyarakat harus kritis: apakah kebijakan ini betul-betul berpihak pada pengguna, atau hanya sekadar persaingan jangka pendek antarprovider?
Bagaimana menurut Anda?
Apakah internet murah 100 Mbps benar-benar bisa berkelanjutan, atau hanya ilusi kompetisi?