By: Oki Dwi Yulianto
Investor asing melakukan aksi jual saham dalam jumlah besar mencapai Rp 4,55 triliun di pasar modal Indonesia pada Selasa, 9 September 2025.
Aksi jual ini menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,78% ke level 7.628,60.
Transaksi terjadi di bursa saham Indonesia dengan volume mencapai Rp 24,85 triliun.
Saham-saham perbankan besar seperti BCA, Mandiri, dan BRI menjadi sasaran utama aksi jual oleh investor asing.
Namun, beberapa saham seperti Astra International dan Merdeka Copper Gold justru dibeli bersih oleh asing di tengah aksi jual besar ini.
Tekanan jual besar ini berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Meskipun begitu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
Inflasi pada Agustus 2025 tercatat 2,35% YoY dan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 4,17 miliar pada Juli 2025.
Bank Indonesia juga telah menurunkan suku bunga acuan pada Agustus 2025 untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Namun, perbedaan suku bunga dengan Amerika Serikat yang semakin tipis mengurangi daya tarik aset Rupiah bagi investor asing.
Investor asing melepas saham jumbo senilai Rp 4,55 triliun yang mendorong koreksi tajam IHSG dan melemahkan rupiah.
Kendati tekanan ini terjadi, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat sebagai penopang jangka menengah, sehingga prospek pasar modal masih dapat dipertimbangkan untuk jangka panjang.