Oleh: Oki Dwi Yulianto
Dulu, saya punya teman yang sangat akrab.
Kami sering berbagi cerita, makan bareng, bahkan bermimpi bersama tentang masa depan.
Dia berasal dari keluarga biasa, sama seperti saya.
Keadaan ekonomi tidak pernah menjadi penghalang bagi persahabatan kami.
Namun, seiring waktu, jalan hidup kami berubah.
Dia berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji fantastis dan memulai bisnis yang sukses besar.
Awalnya, saya ikut senang.
Saya pikir ini adalah kesempatan untuk kami berdua bisa berkembang lebih jauh.
Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Sikapnya mulai berubah.
Ia menjadi sangat pelit, bahkan untuk sekadar patungan membeli makanan. Pembicaraan kami selalu berpusat pada kekayaannya, dan ia sering meremehkan orang lain yang dianggap tidak selevel dengannya.
Ia juga mulai menunjukkan kebencian pada hal-hal kecil, dan seolah-olah pengetahuannya menjadi terbatas pada hal-hal materi.
Persahabatan kami hancur, bukan karena saya iri, tetapi karena dia seolah-olah menjadi orang yang sama sekali berbeda.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kekayaan, kekuasaan, atau kedudukan tidak menjamin kebahagiaan dan kebijaksanaan.
Justru, hal-hal tersebut bisa menjadi ujian berat bagi hati manusia.
Fenomena "semakin kaya semakin serakah dan pelit" itu memang nyata. Begitu pula dengan orang yang berkuasa, terkadang bisa semakin membenci dan menjadi bodoh.
Semua sifat buruk ini adalah penyakit hati yang sudah ada sejak zaman nabi, dan akan selalu menemukan balasan yang setimpal.
Kita harus waspada, jangan sampai 3 penyakit itu menggerogoti diri kita.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, sadari bahwa keserakahan, kebencian, dan kebodohan adalah racun. Jaga hati kita agar selalu bersyukur dan rendah hati, tidak peduli seberapa banyak yang kita miliki.
Kedua, jika kita melihat teman atau bahkan diri sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda ini, ingatkan dan koreksi diri. Jangan biarkan materi menguasai hati dan pikiran.
Terakhir, teruslah belajar dan berbuat baik. Karena pada akhirnya, nilai diri kita tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita punya, melainkan dari seberapa baik kita memperlakukan sesama.