Oleh: Oki Dwi Yulianto
Dunia kerja modern di era globalisasi dan digitalisasi menuntut profesionalisme, kapabilitas intelektual, ketahanan emosional, serta kesiapan dalam menghadapi dinamika industri yang kian kompleks.
Namun, publik belakangan ini dikejutkan oleh tayangan video yang viral di berbagai media sosial, memperlihatkan calon pegawai sebuah lembaga jaminan sosial publik—BPJS Ketenagakerjaan—yang diwajibkan melakukan aksi berjalan di atas bara api (firewalk) sebagai bagian dari kegiatan Program Orientasi Persiapan Kerja (OPK).
Pihak manajemen melalui juru bicaranya menjelaskan bahwa metode tersebut merupakan bagian dari experiential learning untuk membentuk kedisiplinan, keberanian, dan kepercayaan diri pegawai.
Fenomena ini memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat: apakah atraksi ekstrem seperti berjalan di atas bara api masih relevan, efektif, dan profesional untuk membina karakter tenaga kerja publik di era modern saat ini?
Sudut pandang kritis menilai bahwa penggunaan latihan fisik berisiko tinggi seperti berjalan di atas bara api adalah pendekatan kuno, tidak elegan, serta kurang edukatif jika dibandingkan dengan standar pengembangan sumber daya manusia (SDM) di negara-negara maju.
Pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kecerdasan emosional pegawai seharusnya berfokus pada simulasi kasus nyata, penyelesaian masalah analitis, kepemimpinan adaptif, serta penguasaan literasi teknologi, bukannya bertaruh pada ketakutan fisik yang bersifat semu.
Menghadapkan calon pegawai pada potensi bahaya fisik tidak serta-merta mencerminkan kesiapan mereka dalam memberikan pelayanan publik yang ramah, efisien, dan solutif.
Kontroversi ini menjadi hangat karena mempertanyakan esensi mendasar dari kurikulum pelatihan SDM di institusi pemerintah maupun BUMN: apakah kita sedang membangun kapasitas profesional yang unggul atau sekadar melanggengkan tradisi perpeloncoan gaya lama yang dibungkus dengan istilah keren bernama 'experiential learning'?
Berikut adalah fakta, argumen mendasar, dan bukti pendukung yang mendasari pandangan kritis terhadap efektivitas metode pelatihan fisik ekstrem seperti berjalan di atas bara api dalam dunia kerja profesional:
• Praktik Pembentukan Karakter di Negara Maju Berfokus pada Soft Skills Teknis dan Analitis: Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan negara-negara Uni Eropa, korporasi maupun lembaga pemerintahan tidak lagi menggunakan latihan fisik berisiko keselamatan sebagai standar orientasi kerja. Pengembangan SDM di sana berfokus pada analisis studi kasus, metode design thinking, simulasi krisis manajemen, komunikasi interpersonal, kepemimpinan berbasis data, serta pemecahan masalah nyata yang dihadapi organisasi sehari-hari.
• Efek Psikologis 'Firewalk' Bersifat Sementara dan Tidak Berhubungan Langsung dengan Kinerja Organisasi: Berbagai studi psikologi industri menunjukkan bahwa sensasi keberhasilan melintasi bara api hanya memberikan lonjakan dopamin dan rasa percaya diri yang bersifat sementara (temporary rush). Keberanian melangkah di atas bara api sama sekali tidak berkorelasi linier dengan integritas kerja, kemampuan analisis data, ketelitian administrasi, emosionalitas saat menghadapi keluhan nasabah, maupun kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) di kantor.
• Risiko Keselamatan Tenaga Kerja dan Perlindungan Hak Asasi Pegawai: Meskipun penyelenggara mengklaim adanya pengawasan instruktur dan jaminan keselamatan, aksi berjalan di atas bara api tetap menyimpan potensi bahaya luka bakar fisik dan trauma psikologis. Sebuah institusi publik yang bertugas mengelola jaminan keselamatan kerja bagi seluruh pekerja di Indonesia idealnya menjadi contoh utama dalam menerapkan prinsip-prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ketat, bukan justru memaparkan calon pegawainya pada risiko fisik yang tidak perlu dalam rangkaian pelatihan resmi.
• Ketersediaan Metode 'Experiential Learning' Modern yang Lebih Elegan dan Edukatif: Untuk melatih kerja sama tim, keberanian mengambil keputusan, dan ketahanan mental, dunia HRD modern memiliki opsi metode yang jauh lebih terukur dan relevan. Metode seperti simulasi manajemen krisis berbasis komputer, outbound berbasis strategi penyelesaian masalah terpadu, proyek inkubasi inovasi, hingga pelatihan resiliensi psikologis berbasis sains (neuroscience) terbukti jauh lebih berdampak positif pada peningkatan efisiensi dan kualitas kerja staf.
• Potensi Degradasi Citra Profesionalisme Lembaga Publik: Di mata publik nasional maupun internasional, penggunaan atraksi yang mengandalkan sensasi atau semi-mistis/atraksi keberanian fisik dapat mengurangi wibawa profesionalitas suatu lembaga.
Citra BPJS Ketenagakerjaan sebagai lembaga keuangan publik yang mengelola dana triliunan rupiah milik pekerja seharusnya ditopang oleh citra keahlian teknis, transparansi, ketepatan pelayanan, dan tata kelola yang akuntabel, bukan dari ketangkasan fisik pegawainya dalam melewati bara api.
Di sisi lain, terdapat pula argumen dari pihak penyelenggara, praktisi motivasi, serta pendukung metode experiential learning yang memiliki pandangan berbeda mengenai manfaat latihan fisik ini:
• Menghancurkan Batasan Diri dan 'Limiting Beliefs': Para pendukung metode firewalk percaya bahwa berjalan di atas bara api adalah simbolisasi dari penaklukan rasa takut terbesar dalam diri manusia. Ketika seseorang mampu mengalahkan ketakutan fisik yang berakar di dalam pikirannya, mentalitas 'pasti bisa' dan ketangguhan psikologis akan terbentuk, sehingga pegawai siap menghadapi tekanan kerja atau hambatan besar di dunia nyata.
• Membangun Ikatan Kelompok dan Solidaritas Tim yang Kuat: Pengalaman melewati tantangan ekstrem yang memicu adrenalin secara bersama-sama diakui mampu menciptakan empati, kebersamaan, dan ikatan emosional (bonding) yang sangat kuat antar sesama peserta pelatihan. Sensasi perjuangan bersama ini dipercaya sulit dicapai hanya melalui diskusi di dalam ruang kelas yang formal dan kaku.
• Penerapan Pembelajaran Berbasis Pengalaman Langsung (Experiential Learning): Pihak penyelenggara menegaskan bahwa kegiatan ini dijalankan berdasarkan kaidah teknik yang terukur, didampingi instruktur profesional berpengalaman, serta mengedepankan aspek keamanan yang ketat. Metode ini dipandang bukan sebagai ritual perpeloncoan, melainkan sebuah alat bantu pembelajaran interaktif yang dirancang untuk memberikan dampak emosional mendalam agar nilai-nilai keberanian dan kedisiplinan terekam kuat dalam ingatan peserta.
• Fleksibilitas dan Sifat Kegiatan yang Tidak Wajib Utama: Sebagaimana telah diklarifikasi oleh manajemen, kegiatan berjalan di atas bara api hanyalah salah satu dari sekian banyak suplemen materi dalam rangkaian Program Orientasi Persiapan Kerja (OPK).
Kegiatan ini bukan penentu utama kelulusan pegawai, melainkan sarana opsional yang bertujuan untuk memotivasi mental calon pegawai agar tidak mudah menyerah saat ditempatkan di lapangan kerja yang penuh dinamika.
Sebagai kesimpulan, fenomena pelatihan calon pegawai dengan cara berjalan di atas bara api mengundang refleksi mendalam mengenai arah pembangunan kualitas SDM di Indonesia.
Di tengah arus modernisasi global yang menuntut kecakapan literasi digital, efisiensi kerja, serta keahlian analitis, metode pembinaan karakter berbasis atraksi keberanian fisik sudah sepatutnya direvaluasi kembali.
Karakter pegawai yang tangguh, jujur, berdedikasi, dan profesional tidak dibentuk dari seberapa berani mereka melangkah di atas kobaran bara api selama beberapa detik, melainkan dari konsistensi nilai-nilai kepemimpinan, integritas, serta ruang kerja edukatif yang dibangun secara sistematis berkelanjutan.
Sudah saatnya institusi publik dan korporasi kita bertransformasi menggunakan pendekatan pembinaan pegawai yang lebih elegan, ilmiah, dan berstandar internasional demi menjawab tantangan zaman.
Bagaimana pendapat Anda mengenai isu ini?
Apakah Anda setuju bahwa metode pelatihan fisik seperti ini masih efektif untuk melatih mental kerja, ataukah sudah saatnya kita meninggalkan metode tersebut dan beralih ke pendekatan yang lebih edukatif serta profesional?
Penasaran dengan videonya, silakan saksikan sendiri di sini.