Oleh: Oki Dwi Yulianto
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) baru saja menyetujui vaksin flu berbasis mRNA untuk orang berusia 50 tahun ke atas.
Vaksin baru bernama mFlusiva dari Moderna ini terbukti 26,6% lebih efektif mencegah gejala flu dibandingkan vaksin flu tradisional dosis reguler berdasarkan uji coba pada lebih dari 40.000 orang.
Namun, di balik terobosan medis ini, para ahli justru mengkhawatirkan satu hal: masyarakat mungkin akan ragu untuk menerimanya karena teknologi yang sama pernah digunakan pada vaksin COVID-19.
Vaksin mFlusiva menjadi vaksin mRNA kedua yang disetujui FDA setelah vaksin COVID-19.
Teknologi ini menggunakan molekul pembawa pesan genetik virus untuk mempersiapkan tubuh melawan infeksi.
Keunggulan utamanya, menurut Dr. Sharon Nachman dari Stony Brook Medicine, adalah kemampuan untuk mencocokkan strain flu yang paling dominan setiap musim secara lebih akurat.
Metode produksi yang lebih cepat ini dinilai sebagai "pengubah permainan" karena selama lebih dari 70 tahun, vaksin flu dibuat dengan menumbuhkan virus di dalam telur ayam, sebuah proses yang memakan waktu dan terkadang meleset dari prediksi strain yang tepat.
Kekhawatiran utama para dokter adalah rendahnya tingkat kepercayaan publik.
Survei KFF menemukan bahwa hanya 56% warga Amerika yang percaya vaksin COVID-19 aman, dan sekitar seperempat masyarakat masih percaya pada klaim palsu bahwa vaksin mRNA dapat mengubah DNA.
Tingkat vaksinasi flu di New York sendiri pun hanya sekitar 48% pada musim 2024-2025. Dr. Bruce Farber dari Northwell Health menyebut bahwa meskipun seiring waktu orang mungkin akan lebih nyaman, namun bagi sebagian orang, misinformasi yang beredar akan membuat mereka tidak pernah mempercayainya.
Proses persetujuan vaksin ini juga tidak berjalan mulus.
Pada Februari lalu, FDA awalnya menolak untuk mempertimbangkan aplikasi Moderna, hingga muncul protes dari para ilmuwan. Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., yang dikenal sebagai seorang skeptis vaksin, bahkan sempat mengklaim bahwa teknologi mRNA tidak efektif melawan flu dan COVID, pernyataan yang disebut Profesor Jeff Coller dari Johns Hopkins sebagai "sangat bertentangan dengan bukti ilmiah."
"Kemampuan untuk membuat vaksin flu secara waktu nyata yang sesuai dengan strain flu yang beredar akan menjadi pengubah permainan," ujar Dr. Sharon Nachman, Kepala Penyakit Infeksi Anak di Stony Brook Medicine.
Meski menghadapi tantangan kepercayaan, potensi vaksin ini sangat besar.
Selain untuk flu, Moderna juga telah memulai uji coba manusia untuk vaksin mRNA melawan Ebola dan hasil menjanjikan untuk vaksin kanker.
Persetujuan untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas masih bersifat sementara, menunggu penelitian lebih lanjut, dan pemerintah berjanji akan terus mempublikasikan data keamanan dan efektivitas.
Kita kini berada di persimpangan antara kemajuan medis yang nyata dan perang melawan misinformasi.
Vaksin flu mRNA telah membuktikan keunggulannya secara ilmiah, namun kesediaan masyarakat untuk menerimanya akan menentukan seberapa besar potensi penyelamatan nyawa ini dapat terwujud.
Tantangan ke depan bukan hanya pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada upaya membangun kembali kepercayaan publik yang sempat terkikis.