OKI DWI YULIANTO

Selamat datang di website pribadiku 👽🖖

2026-08-15

Dua Gempa, Dua Respons: Ketika Negara Hadir, Nyawa Terselamatkan

Oleh: Oki Dwi Yulianto

Bencana gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela dan Kolombia dalam kurun waktu kurang dari dua bulan menunjukkan perbedaan kontras dalam kapasitas penanggulangan bencana kedua negara. 

Di Venezuela, gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo yang menerjang akhir Juni lalu menewaskan 6.300 jiwa, dengan warga sipil terpaksa memimpin penyelamatan menggunakan tangan kosong, ember, dan kayu. 

Sementara itu, di Kolombia, gempa 7,7 magnitudo pada 15 Agustus yang meluluhlantakkan menara Torres del Limonar di Cali dan provinsi Choco justru direspons cepat oleh pemerintah, menekan jumlah korban jiwa menjadi 285 orang. 

Perbandingan ini menggarisbawahi satu fakta mendasar: kesiapan dan kapasitas negara sangat menentukan selamat atau tidaknya ratusan ribu nyawa.

Di kompleks perumahan Los Cocos, La Guaira, Venezuela, kehancuran terjadi begitu cepat. 

Warga, tetangga, dan beberapa pejabat lokal menghabiskan waktu berminggu-minggu menggali puing-puing dengan peralatan seadanya. 

Bantuan internasional datang, namun alat berat baru beroperasi sebulan kemudian, sementara kelangkaan bahan bakar membuat mesin-mesin menganggur. 

Di sisi lain, saat gempa mengguncang Cali, dalam hitungan jam, polisi, tentara, tim penyelamat dari kota lain, dan lebih dari belasan instansi resmi langsung diterjunkan. 

Lokasi bencana segera tertata rapi, jalur evakuasi dikendalikan, dan dump truck serta crane bekerja tanpa henti untuk membersihkan puing. 

Perbedaan ini bukanlah kebetulan. 

Venezuela tengah dilanda krisis ekonomi parah, hiperinflasi, dan korupsi yang menggerogoti anggaran negara, sementara 

Kolombia justru memiliki presiden baru, Abelardo De La Espriella, yang bergerak cepat dengan mengerahkan sumber daya dan dana darurat.

"Banyak upaya penyelamatan langsung di awal dilakukan oleh warga sipil yang sama sekali tidak dilengkapi untuk memindahkan beton dan bangunan yang runtuh," ujar Tomas Michael Carvallo, analis intelijen senior dari firma keamanan Global Guardian, yang menggambarkan situasi di Venezuela.

Perbedaan respons ini membawa konsekuensi besar. 

Di Venezuela, selain korban jiwa yang sangat tinggi, proses identifikasi korban pun terhambat karena kurangnya peralatan dan personel forensik. 

Di Kolombia, meskipun masih ada kekhawatiran untuk provinsi Choco yang terpencil, respons cepat di pusat kota telah menyelamatkan banyak nyawa dalam "jendela emas" 72 jam pertama. 

Kisah dua gedung ini menjadi pelajaran pahit: ketika negara gagal hadir, rakyatlah yang harus berjuang sendiri. 

Namun, ketika negara bergerak cepat dan terorganisir, harapan untuk bertahan hidup menjadi jauh lebih besar. 

Bencana memang tak terelakkan, tetapi kematian massal seringkali adalah buah dari kelalaian dan ketidakmampuan sistem yang kita bangun.