Oleh: Oki Dwi Yulianto
Hari kedelapan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, data terbaru dari Pos Pendamping Nasional BNPB per Sabtu (22/8) menunjukkan skala bencana yang masih bergerak dinamis.
Lebih dari 5.000 gempa susulan tercatat, korban jiwa bertambah menjadi 87 orang, dan hampir 151 ribu warga masih mengungsi, sementara logistik 954 ton sudah didistribusikan lewat 68 sorti penerbangan.
Dari catatan lapangan, gempa susulan yang terjadi hingga Jumat pukul 05.00 WIB mencapai 5.012 kali, dengan magnitudo terbesar M6,2 dan terkecil M1,1.
Dari jumlah itu, 124 di antaranya terasa sampai ke permukiman warga.
Bayangkan, dalam sepekan lebih, tanah di NTT terus bergerak—bukan sekadar getaran, tapi ancaman psikologis yang tak kalah nyata.
Korban meninggal dunia tersebar di tujuh kabupaten.
Manggarai mencatat 31 jiwa, Manggarai Timur 30, Nagekeo 13, Sikka 9, Ngada 4, Ende 2, dan Manggarai Barat 1.
Sementara korban luka tembus 1.298 orang, dengan 336 di antaranya luka berat—mayoritas masih terkonsentrasi di Manggarai Timur (643 jiwa) dan Manggarai (285 jiwa).
Ini bukan sekadar angka, ini wajah-wajah yang kehilangan rumah dan keluarga.
"Jumlah pengungsi sementara tercatat 150.576 jiwa, tersebar dari Manggarai (41.427) hingga Ngada (2.551)."
Di sektor logistik, Posduklognas Halim Perdanakusuma melaporkan pada Sabtu saja sudah mengirim 147 ton bantuan lewat 10 sorti, rinci 70 ton ke Labuan Bajo dan 77 ton ke Maumere.
Total kumulatif 954 ton sejak 15 Agustus.
Tapi pertanyaan kritisnya: apakah distribusi sudah merata ke titik-titik terpencil? Sebab medan NTT bukanlah jalan tol.
Yang menarik, kehadiran KRI dr. Soeharso-990 di Pelabuhan Reo jadi tulang punggung layanan kesehatan.
Kapal rumah sakit TNI AL ini mendirikan RS lapangan di Waso dan Wangkong, Kecamatan Reok, dengan kapasitas 75 pasien rawat inap dan fasilitas operasi besar.
Ditambah RS Terapung Ksatria Airlangga di Manggarai Timur.
Kolaborasi ini patut diapresiasi, tapi kapasitas 75 tempat tidur untuk 150 ribu pengungsi?
Masih jauh dari cukup.
Personel gabungan yang dikerahkan: TNI 5.832, Polri 238, relawan 903 dari 104 organisasi.
Belum termasuk tim dari kementerian dan BNPB sendiri.
Jumlah besar, tapi koordinasi di lapangan tetap jadi PR.
Dari pengalaman liputan bencana sebelumnya, efisiensi sering kandas di birokrasi darurat.
Kesimpulannya, respons darurat berjalan, tapi skala dampak jauh melampaui kapasitas harian.
Gempa susulan yang masih terus terjadi memperbesar risiko sekunder—longsor, bangunan rapuh, dan trauma warga.
Yang paling mendesak bukan cuma tenda dan makanan, tapi pemulihan psikososial dan akses kesehatan berkelanjutan.
Tanpa itu, angka 87 bukanlah akhir.