OKI DWI YULIANTO

Selamat datang di website pribadiku 👽🖖

2026-08-23

Iran Ancam Cap "Musuh" bagi Negara yang Ikut Sanksi AS, Sebut Konfrontasi Bagaikan Gempa Bumi

Oleh: Oki Dwi Yulianto

Peringatan keras datang dari Teheran di tengah panasnya perang ekonomi yang dilancarkan AS di bawah kampanye Donald Trump. 

Iran secara gamblang mengancam bakal menganggap negara mana pun yang ikut serta dalam sanksi ekonomi AS sebagai musuh, bahkan siap menyerang perusahaan minyak Amerika di sekitar wilayahnya jika tekanan terus berlanjut.

Pernyataan eksplisit itu disampaikan langsung oleh Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai, melalui siaran televisi pemerintah pada Minggu (23/8). 

Rezai menyebut negara-negara yang ikut menerapkan pembatasan ekonomi terhadap Iran akan diperlakukan setara dengan lawan, dan Iran tak ragu "merugikan" kepentingan mereka jika tetap memilih berpihak ke Washington.

Di sisi lain, AS terus mendesak sekutu-sekutunya, termasuk China, untuk bergabung dalam isolasi ekonomi terhadap Iran. 

Namun Beijing terang-terangan mengkritik langkah itu, dengan alasan sanksi takkan menyelesaikan akar konflik di Timur Tengah. 

Sementara Uni Emirat Arab, yang selama ini menjadi salah satu mitra dagang utama Teheran, justru sudah mengambil langkah drastis dengan menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran sejak Selasa lalu.

"Sejauh ini kami hanya menargetkan pangkalan militer, tapi jika mereka ingin menjatuhkan sanksi ekonomi, AS punya perusahaan minyak di sekitar kami—dan kami akan serang itu," tegas Rezai, seraya menambahkan bahwa jika Trump bertindak lebih jauh, "konfrontasi kami bagaikan gempa bumi."

Yang menarik dari pernyataan ini adalah nada ancaman yang naik satu tingkat dibanding retorika sebelumnya. 

Iran selama ini lebih kerap menekankan pada diplomasi ancaman di laut dan rudal, kini mereka secara terbuka mengaitkan sanksi ekonomi dengan serangan langsung ke aset-aset korporasi AS. 

Ini bukan sekadar gertakan, melainkan sinyal bahwa Iran mulai mengubah peta permainan dari perang proksi ke perang ekonomi-asimetris.

Di tengah kebuntuan diplomasi, langkah UEA menjadi sinyal kuat bahwa solidaritas regional mulai retak. 

Jika negara tetangga sekaligus mitra dagang utama saja mundur, maka efektivitas sanksi AS justru berpotensi melemah, bukan menguat. 

Namun Iran tampaknya tak mau ambil risiko—mereka memilih strategi ketakutan daripada negosiasi.

Kesimpulannya, pilihan negara-negara di kawasan kini berada di antara dua tekanan: koersi dari AS dan ancaman langsung dari Iran. 

Siapa yang bergabung dengan kampanye Trump, harus siap dicap musuh oleh Teheran. 

Dan jika ancaman itu benar-benar dieksekusi, Timur Tengah bukan hanya berguncang secara diplomatik, tapi benar-benar bisa bergetar seperti gempa ekonomi dan militer sekaligus.