OKI DWI YULIANTO

Selamat datang di website pribadiku 👽🖖

2026-08-21

Mengupas Langit, Menelanjangi Bumi: Antara Ambisi Kosmik dan Realitas Fiskal

Oleh: Oki Dwi Yulianto

Ketika tim ilmuwan Cambridge merayakan persetujuan misi CosmoCube—satelit seukuran koper yang akan menguping bisikan alam semesta dari balik Bulan—saya justru tersadar pada jurang yang menganga.

Di satu sisi, ada negara yang dengan tenang mengalokasikan puluhan juta euro untuk mendengar "bisikan" dari 13,5 miliar tahun lalu.

Di sisi lain, kita masih berkutat pada pertanyaan klasik: mengapa riset antariksa di negara sendiri terasa seperti mimpi di siang bolong?

Bukan karena kita tak punya otak cemerlang, tetapi karena kebijakan dan anggaran sering kali jadi korban "kebocoran" yang tak kasat mata.

Kontroversinya bukan pada sains, tetapi pada prioritas: apakah peradaban maju memang harus memilih antara mengerti asal-usul kosmos atau mengatasi kerakusan di bawah langitnya sendiri?

Fakta-fakta dari misi ini justru mempertegas ironi tersebut:
  • CosmoCube dirancang dengan biaya di bawah 50 juta euro—angka yang di Eropa dianggap "murah", tetapi di negeri kita bisa setara dengan puluhan proyek infrastruktur desa yang raib entah ke mana.
  • UK Space Agency dan mitra industri menunjukkan bahwa kolaborasi riset bisa berjalan efisien dengan transparansi anggaran. Mereka bahkan membuat prototipe dan uji lingkungan sebelum peluncuran, tanpa cerita tentang "dana pendidikan yang tersedot ke proyek lain".
  • Teknologi RF-Systems-on-Chip (RFSoCs) yang digunakan adalah bukti bahwa inovasi tidak selalu mahal—asalkan ada kemauan politik untuk mendukung ekosistem riset, bukan sekadar proyek mercusuar.
  • Periode "zaman gelap" kosmik yang ingin diungkap CosmoCube justru gambaran metaforis tentang birokrasi riset kita: gelap, tidak terpetakan, dan penuh gangguan sinyal kepentingan.
Pendukung realitas di negara berkembang mungkin berargumen bahwa: 
  • Anggaran luar angkasa adalah kemewahan yang tidak prioritas ketika masih ada kelaparan dan kebodohan di depan mata. 
  • Teknologi canggih seperti CosmoCube membutuhkan rantai pasok industri yang belum tentu tersedia di dalam negeri. 
  • Kolaborasi internasional seringkali hanya melibatkan negara-negara dengan stabilitas politik dan hukum yang jelas, sehingga kita "belum siap" secara institusional. 
Saya tidak menolak argumen itu, tetapi justru di situlah letak masalah: kita menerima "ketidakberdayaan" sebagai takdir. 

Padahal, misi CosmoCube membuktikan bahwa skala kecil dan fokus ilmiah dapat memotong birokrasi gemuk—asalkan integritas dijaga. 

Pertanyaan saya bukanlah "mengapa tidak seperti Cambridge?", melainkan "mengapa kita selalu membiarkan celah korupsi menghalangi mimpi besar?" 

Apakah kesadaran akan korupsi justru menjadi alasan untuk tidak mencoba, ataukah memang ada kesepakatan diam bahwa kemajuan adalah untuk mereka yang sudah "di atas"? 

Saya mengundang Anda yang membaca untuk merenung: apakah keprihatinan ini berlebihan, atau justru kita sedang kehilangan generasi ilmuwan karena piring tetap kosong di meja riset? 

Tinggalkan pesan Anda—karena percuma kita mendengar bisikan bintang jika telinga kita tuli terhadap jeritan di bumi sendiri.