Sejak perang di Ukraina meletus, OpenAI telah membongkar sejumlah operasi pengaruh terselubung dari Rusia.
Namun yang terbaru, yang diungkap pada pertengahan 2026, berbeda.
Bukan sekadar komentar bot di media sosial, kali ini para aktor membangun sebuah institusi fiktif bernama International Burke Institute (IBI) yang mengaku berbasis di Israel, dilengkapi dengan situs web, indeks kedaulatan dunia, dan jajaran pakar yang sebagian besar adalah nama-nama besar yang dicuri—termasuk Francis Fukuyama dan Noam Chomsky.
Di balik itu semua, mereka menggunakan ChatGPT untuk memproduksi unggahan propaganda, sambil menyembunyikan jejak bahasa Rusia dengan instruksi ketat kepada model AI.
OpenAI akhirnya memblokir sekelompok akun ChatGPT yang berasal dari Rusia, mengungkap apa yang disebut sebagai operasi pengaruh paling rumit dari Moskow sejak awal invasi ke Ukraina.
Para operator menggunakan VPN untuk mengakses ChatGPT dari Rusia, karena akses resmi ke model tersebut memang diblokir di negara itu, dan memberi perintah dalam bahasa Rusia agar AI menghasilkan komentar dalam bahasa Inggris yang terdengar natural, tanpa sedikit pun petunjuk linguistik bahwa penulisnya adalah orang Rusia.
Konten yang dihasilkan kemudian disebarkan ke X, LinkedIn, Facebook, Substack, dan Telegram.
Di Substack, akun IBI bahkan membalas unggahan pengguna lain dengan meminta mereka mengikuti kanal IBI.
Salah satu operator juga membuat konten berbahasa Jerman untuk kanal Telegram bernama "Lahme Ente" yang secara rutin mengkritik Ukraina, Uni Eropa, dan pemerintah Jerman, serta mendorong hubungan lebih baik dengan Rusia.
Operator lain membuat logo untuk belasan kanal Telegram di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Polandia, dan Turki, dengan satu akun bernama American Observer yang menampilkan bio dalam bahasa Inggris yang janggal, seperti "a totally unhackneyed perspective on hazzy", yang jelas bukan ditulis oleh penutur asli.
Yang membuat operasi ini lebih berbahaya dari sekadar unggahan media sosial adalah infrastruktur yang dibangun.
Situs IBI, yang terdaftar pada Februari 2025 dan mengklaim beralamat di Israel, memuat puluhan artikel riset.
Namun setelah ditelusuri, dari 36 artikel sampel yang diterbitkan antara September 2025 dan Mei 2026, 34 di antaranya adalah hasil jiplakan dari karya akademik asli, beberapa berusia tahunan, dan banyak yang salah atribusi.
Satu artikel tentang Koridor Ekonomi China-Pakistan ternyata disalin dari publikasi Cambridge University Press tetapi dikaitkan dengan profesor Universitas Nottingham yang bidangnya politik Asia Selatan.
Artikel lain tentang tata kelola migrasi dijiplak dari Migration Policy Institute namun dilekatkan pada profesor sains pangan asal Australia.
Di samping itu, IBI menerbitkan laporan indeks kedaulatan yang secara konsisten memuji Rusia dan merendahkan negara-negara Barat, seperti menyebut bahwa Prancis "dijual sebagian" di bawah kepemimpinan Macron, atau bahwa kunjungan Trump ke Beijing merupakan "pengurangan otonomi sukarela" bagi Amerika Serikat.
"Meskipun kampanye ini tampaknya menjangkau audiens yang relatif kecil, konstruksinya yang rumit membedakannya dari operasi pengaruh lain yang terafiliasi dengan Rusia yang kami ganggu sejak awal perang di Ukraina," demikian pernyataan resmi OpenAI.
Dengan pengikut kanal Telegram yang berkisar 10.000 hingga 20.000 dan interaksi media sosial yang rendah, dampak langsung operasi ini tergolong rendah, di ujung bawah Kategori Tiga dalam skala Brookings Breakout Scale.
Namun ancaman sesungguhnya bukan pada jangkauannya saat ini, melainkan pada metode yang dibangun: penggunaan AI sebagai alat pendukung untuk menciptakan otoritas palsu, menyamarkan asal-usul narasi, dan menyiapkan aset yang bisa diperbesar seiring waktu.
Dan yang ironis, justru penggunaan AI yang ceroboh, seperti terjemahan harfiah "Svetofor coalition" untuk merujuk koalisi lampu lalu lintas Jerman, yang akhirnya membuka tabir siapa sebenarnya di balik kedok lembaga riset Israel itu.