Oleh: Oki Dwi Yulianto
Selama puluhan tahun, sel astrosit dianggap hanya sebagai "tukang bersih-bersih" dan penyokong struktural di otak.
Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 5 Agustus 2026 mengungkap sisi gelap mereka: dalam kondisi peradangan, subpopulasi astrosit tertentu justru berubah menjadi pengkhianat yang membantu sel-sel imun menghancurkan sistem saraf, seperti yang terjadi pada penyakit multiple sclerosis (MS).
Temuan ini membuka lembaran baru pemahaman tentang autoimunitas di otak dan menawarkan target terapi potensial yang selama ini terlewatkan.
Para peneliti menemukan bahwa astrosit yang aktif mengekspresikan dua protein kunci: CD40 dan MHC-II. Ketika sel T CD4 menempel pada mereka, astrosit meningkatkan kemampuan untuk "menunjukkan" antigen (mirip seperti polisi yang menunjukkan foto pelaku) dan memicu sel Th17, yaitu sel peradangan yang menjadi biang kerok serangan MS.
Lebih mencengangkan lagi, eksperimen pada model tikus menunjukkan bahwa ketika CD40 atau MHC-II dimatikan secara khusus di astrosit, keparahan penyakit berkurang drastis.
Ini membuktikan bahwa astrosit bukan sekadar penonton, melainkan aktor aktif yang memperparah serangan autoimun.
"Kami menemukan bahwa astrosit tidak hanya menjadi jaringan yang rusak akibat peradangan, tetapi dalam kondisi tertentu mereka bisa menjadi mitra yang memperkuat serangan itu sendiri," tulis tim peneliti dalam laporannya.
Mekanisme di balik pengkhianatan ini ternyata melibatkan metabolisme lemak.
Aktivasi CD40 memicu penumpukan tetesan lemak (mengandung PLIN4) di dalam astrosit.
Tetesan ini menyediakan bahan bakar berupa asetil-KoA yang mengaktifkan jalur peradangan NF-κB, yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan astrosit memicu sel T.
Astrosit dengan karakteristik serupa juga ditemukan di jaringan otak pasien MS manusia, memperkuat relevansi temuan ini untuk pengobatan di masa depan.
Namun, para peneliti menekankan bahwa terapi yang menargetkan astrosit masih sangat jauh: menghambat CD40 atau MHC-II secara keseluruhan akan berbahaya karena kedua protein ini memiliki fungsi vital di seluruh tubuh.
Temuan ini lebih merupakan peta baru untuk menjelajahi medan perang MS, bukan senjata siap pakai.