Oleh: Oki Dwi Yulianto
Layanan bus Trans Banyumas, yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas warga di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terancam berhenti beroperasi mulai 28 Agustus 2026.
Ancaman ini muncul setelah pemerintah pusat menghentikan program subsidi "Buy The Service" (BTS), sehingga biaya operasional harus ditanggung penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas.
Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama DPRD setempat kini berupaya keras mencari tambahan dana sekitar Rp15 miliar agar bus-bus kebanggaan warga Purwokerto-Baturraden itu tetap bisa melaju.
Keputusan penghentian subsidi pusat ini memaksa Pemkab Banyumas untuk berpikir kreatif.
Bupati Sadewo Tri Lastiono menegaskan komitmennya untuk mempertahankan layanan ini sebagai bentuk pelayanan publik mendasar.
Beberapa opsi sedang dijajaki, mulai dari memasang iklan di bodi bus, menyesuaikan tarif penumpang, hingga kemungkinan mengajukan pinjaman bank.
Saat ini, APBD kabupaten hanya sanggup membiayai operasional hingga tanggal 28 Agustus 2026, sehingga waktu terus berjalan untuk menemukan solusi pendanaan.
Di tengah ketidakpastian ini, suara pengguna setia justru menjadi sorotan.
Nur Aprilia (35), seorang pengguna harian, mengungkapkan betapa Trans Banyumas sangat membantu warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi, terutama untuk menjangkau kawasan wisata Baturraden.
"Busnya nyaman dan mudah," ujarnya, seraya berharap agar layanan tetap jalan meskipun ada kenaikan tarif, asalkan tidak terlalu tinggi.
Senada dengan itu, Adin (29), pengguna rutin lainnya, menyatakan bahwa ia rela tarif naik Rp500 hingga Rp1.000 asalkan bus tetap beroperasi, karena kenyamanan layanan ini sudah seperti di kota besar.
"Namanya juga Buy The Service, sejak ada Trans Banyumas layanan transportasi sangat nyaman seperti kota besar. Bahkan sampai malam jam 20.00 WIB masih ada. Jangan berhenti, naik tarif gak papa, asal jangan yang signifikan," ujar Adin, salah satu pengguna setia.
Kini, seluruh elemen di Banyumas sedang bergotong royong.
Perjuangan Pemkab dan DPRD untuk mencari dana tambahan, diiringi harapan masyarakat yang rela berkorban demi kenyamanan bersama.
Persoalan ini menjadi ujian nyata bagi keberlanjutan transportasi publik di daerah, dan menunjukkan bahwa di balik angka-angka anggaran, ada ribuan warga yang menggantungkan hidupnya pada laju bus Trans Banyumas.
Akankah bus-bus itu tetap melaju melewati 28 Agustus?
Jawabannya kini berada di tangan upaya kolektif kita semua.